RSS

Tag Archives: KSI

kampung naga part 1

Bulan desember itu bagi gue sebuah bulan yang selalu gue nantikan. Alasan pertama, adanya hari libur. Hari libur di bulan desember itu konsisten, banget!! Coba lu pikirin, Cuma bulan desember yang liburnya disitu-situ doang, gak mungkin kan tiba-tiba tahun baru berubah jadi 29 desember dan natal jadi 23 desember. Hancur dunia kalau gitu ceritanya. Saat-saat libur, gue bisa santai dengan kegiatan tidur gue di kasur tercinta. Kedua, entah kenapa gue selalu suka sama bulan terakhir satu ini, dimana bulan untuk  terakhir kalinya selama 31 hari menuju tahun yang baru. Kebanyakan orang pasti selalu punya sesuatu yang bakal dilakuin sebelum 1 januari tahun depan. Tobat, jadi yang lebih baik, punya pacar, hemat dan sebagainya. Salah satunya gue. Kebetulan dan memang kenyataannya, gue lahir di tanggal 31 desember, dimana satu hari sebelum tahun baru. Gue selalu suka sama tanggal kelahiran gue ini, gampang diinget dan walaupun gak dirayain gue selalu merasa itu berkesan. Gue dulu sering nonton drama korea, yang tokoh cowoknya lupa hari ulang tahunnya, tiba-tiba tokoh cewek bikin kejutan dengan kado ditangannya.

“Surpriseeeeeee..”

“Ini apa?”

“Hari ini ulang tahun kamu, lupa yaaa?” kata si cewek dengan senyum sumringahnya.

“Yaa ampun.. aku lupa” dengan muka pelupanya dan menerima kado dari si cewek itu.

Hal-hal kayak gini nih yang pengen banget terjadi di hidup gue. Gue lupa sama hari ulang tahun sendiri, terus tiba-tiba ada yang bilang ‘surpriseeee’. Dan sepertinya itu hanya mimpi, karena sampai umur gue 20 tahun sekarang, gue gak pernah lupa dan gak akan pernah lupa sama si tanggal 31 desember ini. Mungkin gue bakal pura-pura lupa dan menjalankan skenario seperti di atas tadi, mmm patut dicoba.

Selain banyak libur, dan adanya hari ulang tahun, bulan desember kali ini gue untuk kedua kalinya jalan-jalan bareng teman kuliah gue ke sebuah kampung. Namanya kampung naga, dan jangan tanya gue kenapa namanya ‘kampung naga’, karena gue sendiri gak tahu kenapa namanya gitu. Seingat gue guide di sana pernah cerita, tapi yaa dengan sangat cuek-bebek-gorengnya gue, akhirnya itu penjelasan hilang tertiup angin dan entah kemana. (Maaf yaa bapak -.-)

Mungkin lebih tepatnya bukan di sebut sebagai jalan-jalan, karen ini salah satu acara dari jurusan gue. Kebetulan dan memang kenyataannya gue termasuk anggota KSI (Kajian Studi Ilmiah) di jurusan. Ini pertama kalinya gue aktif di sebuah organisasi, biasanya gue agak males ikut organisasi yang bikin pusing ngurus ini-itu. Mungkin setan organisasi baru masuk ke tubuh gue dan akhirnya mendaftarkan diri jadi anggota KSI ini, mungkin siapa yang tahu.

KSI di jurusan gue ini terbilang memiliki anggota yang relatif sedikit, dibanding organisasi lainnya. Ada beberapa organisasi yang mungkin gak akan gue sebutkan satu-satu disini. Buat kumpul dan ikut rapat gue butuh perjuangan, karena memang terlahir dari rahim nyokap sebagai orang yang agak sedikit males mengikuti hal-hal yang menganggu tidur siang gue. Hal hasil, dengan keengganan gue buat dateng rapat, jadilah gue sebagai bendahara di organisasi itu. Cukup lama gue mencerna kata ‘bendahara’ di otak gue, LAGIIIII?

Jadi gini, dari gue SD, jamannya gue masih jadi bocah ingusan yang pake seragam kebesaran, sampai gue SMA gue selalu kecripatan yang namanya ‘pemegang duit’ atau ‘bendahara’ istilah kerennya. Sewaktu SD entah karena kekurangan murid (tapi itu gak mungkin, karena ada 40 orang dalam satu kelas) atau memang gak ada yang mau jadi bendahara, gue merangkap dua jabatan, sekretaris dan bendahara. Selanjutnya, SMP gue terbebas dari jabatan ‘bendahara’ itu tapi.. gue dipercaya sama teman sepermainan gue dulu buat jadi bank. Jadi dia menabung semua uangnya di gue, istilahnya gue seperti bank abal-abal yang modal buku kecil dari kertas yang disobek-sobek dan dibentuk menyerupai buku tabungan dan celengan plastik yang bagian bawahnya sudah bolong, dengan otak yang tingkat kecerdasannya pelampaui anak SMP mata duitan, gue tutup celengan itu pake lem kertas, dan jadilah itu celengan sebagai tempat penyimpanan uang-uang temen gue. Sewaktu-waktu dia mau mengambil uangnya gue tinggal buka plester lemnya kemudian ditutup lagi, pintar bukan? hemat, praktis dan gak ribet. 😀

Lanjut ke SMA, nah di masa-masa SMA yang katanya masa-masa sekolah yang paling indah. Gue ketemu lagi dengan jabatan ‘bendahara’ satu ini. Tidak tanggung-tanggung, jabatan itu gue dapat tanpa lewat pemungutan suara yang biasanya dilakukan saat pemilihan ketua kelas-wakil kelas-bendara-sekretaris. Wali kelas gue hanya melihat sederatan nama di absen kemudian menyebutkan satu nama, dengan gampangnya beliau menyebutkan nama gue dengan jabatan ‘bendahara’. Tidak lupa dan tidak akan pernah gue lupain, setelah itu dia bilang..

“Oooh iya, kamu yang bernama Diani Fitralia?”

Gue mengangguk.

“dari mukanya kamu cocok jadi bendahara, oke jadi Diani Fitralia bendahara kelas untuk semester ini” Dengan jalan super PD wali kelas gue berjalan menjauh kemudian kembali melihat daftar nama di absen, entah siapa lagi yang akan menjadi korban tebak-tebak buang manggisnya.

Gue baru sadar, kalau terpilihnya gue sebagai bendahara selama ini memang tidak pernah melalui proses yang sebenarnya, maksudnya selalu sesuai dengan istilah ‘Enjoy it’. Setiap gue mendengar nama gue dipanggil menjadi bendahara, dalam otak gue selalu ada kalimat itu. Sampai sekarang, sampai umur gue 20 tahun, gue masih kecripatan dengan istilah ‘bendahara’ satu ini. Entah karena memang sejak gue dalam rahim nyokap udah di cap sebagai bendahara. Mungkin bakal keren kalau sejak lahir ditakdirkan sebagai seseorang yang bakal menyelamatkan dunia, seperti Harry Potter misalnya, dengan codet di keningnya bergambar kilat. Sedangkan gue? Mungkin gue bakal pake contact lens warna ijo, biar lebih terlihat kalau gue sang bendahara yang selalu bisa pegang duit, dan duit itu akan selalu aman di gue.

Kepergian gue ke kampung naga ini asli merupakan rencana yang memang setiap tahun selalu ada di program kerja KSI. Tahun kemarin kita ke Cirebon, 2 tahun yang lalu kita ke Baduy, Untuk tahun ini kita menyusun rencana untuk pergi ke kampung naga. Bukan hanya anggota KSI saja yang berangkat tapi berikut dengan dosen dan mahasiswa angkatan 2011 yang mungkin terbilang baru atau dikenal dengan mahasiswa baru, dengan muka yang masih fresh, lugu dan belum mengenal istilahnya stres atau bahkan keinginan loncat dari lantai 7.

Jujur gue baru tahu kalau kampung naga ini berada di daerah tasik, karena gue termasuk orang kuper sama daerah-daerah di indonesia, apalagi kalau disuruh ngafalin jalan. Aduuuuh, jangan panggil gue deh kalau ada kuis yang isinya tentang tebak-tebakan nama jalan di indonesia. Berhubung gue dulunya pernah ke kampung Baduy, jadi nuansa kampung gini gak buat jijik atau ilfil karena kelamaan hidup di kota metropolitan, kayak jakarta.

Gue dan rombongan stand by di kampus tercinta, sebutlah itu kampus cumi-cumi. Sekitar jam delapan pagi kita semua sudah siap di dalam bis, menuju ke kampung naga. Tidak ada yang spesial dalam perjalanan kali ini, seperti biasa alunan lagu dari bus dan teriakan-teriakan dari mahasiswa baru yang membuat isi bus tidak sepi seperti kuburan. Gue pun terlelap di dalam bus, karena gue termasuk anak yang pelor (nempel molor) apalagi kalau dalam perjalanan yang lumayan jauh ini.

Sekitar jam dua siang, kita semua sampai di tempat tujuan. Tugu khas dari kampung naga pun sudah terlihat, bentuknya yang menurut gue entahlah itu bentuk apa. Hal pertama yang dilakukan saat menginjakkan kaki pertama kali disana, JAJAN! Ini entah karena kelaparan atau masa kecil kurang jajan, abang-abang tukang cilok laku keras sesampainya kita disana. Gue sebagai saksi, dari si abang buka tungku yang penuh dengan cilok sampai itu tungku hanya tinggal sepuluh cilok. *tepuk tangan*

Mungkin memang kelaparan, karena waktu menunjukkan saatnya makan siang. Sabar yaa perut, kita akan merasakan 500 anak tangga terlebih dahulu, baru deh merasakan enaknya makanan. Tunggu, 500 ANAK TANGGA??

Lima ratus anak tangga merupakan keunikan dari kampung naga ini, mmm tepatnya bukan lima ratus tapi hanya empat ratus sekian, dan gue lupa lagi berapa tepatnya si akangnya bilang waktu itu. (otak gue memang harus dioperasi dan ditukar dengan otak jenius) Dengan menuruni lima ratus anak tangga ini maka sampailah di kampung naga, sebelum turun rasa campur aduk menjadi satu. Penasaran, deg-degan, galau, frustasi, setres..oke gak sampai segitunya. Yang pasti penasaran, penasaran gimana rasanya dan capeknya menuruni lima ratus anak tangga itu. Gue sebagai panitia (ciee panitia) mencoba baris di belakang, orang lain sih bakal mikir gue baris di belakang biar menjaga junior-junior, tapi kenyataannya, biar gue bisa santai menjelajahi si lima ratus anak tangga ini.

Here we go.. Selangkah demi selangkah gue tempuh, kebetulan yang bareng gue ada tiga orang, Fatul, isti dan Gina. Kebetulan mereka juga panitia KSI, entah mereka punya pemikiran yang sama kayak gue atau hanya ikutan kekonyolan gue, siapa yang tau.. Perjalanan menempuh lima ratus anak tangga ini tidak terlalu melelahkan, karena gue saat itu menuruni setiap anak tangganya dan gue gak mau membayangkan gimana rasanya jika gue menaiki setiap anak tangga itu dan banyaknya sampai lima ratus, kalau dihitung-hitung dua puluh lima kali bolak balik naik tangga kosan. Oke, stop membayangkan hal-hal yang membuat pusing.

Pemandangan di sekeliling sudah penuh pohon-pohon, udara pun juga segar tidak adanya polusi. Setiap berpapasan dengan penduduk setempat, kita mencoba tersenyum kemudian mereka membalas dan sekadar bertanya ‘darimana?’. Itulah kelebihan penduduk di kampung, selalu bersikap ramah dengan orang-orang asing. Itu pun membuat gue sadar, gue gak pernah menemukan keramah tamahan itu di ibu kota tercinta ini. Coba bayangkan, bakal di kira orang SKSD (sok kenal sok deket) kalau setiap jalan selalu menyapa jangan menyapa tersenyum biasa bakal dibilang aneh, benarkan?

Menapak di anak tangga terakhir, yang pertama kali dilihat itu sebuah sungai kecil, air masih jernih banyak bebatuan yang besar-besar. Gue yakin, orang kota melihat hal-hal beginian pasti jadi norak. Yaa termasuk gue deh. Tapi serius pertama kali gue lihat, itu sungai biasa, biasaaaa banget. Pernah suatu waktu gue turun ke tepian sungai itu terus dengan sok gaya video clip gue duduk di batu paling pinggir sungai. Apa yang gue rasain?? Itu kayak lo lagi di atas awan (tempat yang belum pernah lo datengin) . Susah penggambaran dengan kata-kata, kalau penasaran bisa langsung deh ke kampung naga.

Nah itu lagi yang gak bakal bisa gue temuin di kota jakarta ini. Apasih yang bisa dilihat dari kota metropolitan satu ini? ga jauh dari kendaraan, polusi, macet, banjir, bangunan tinggi. Pernah gak sih ngerasa pengen di tempat yang lu bisa tenang tanpa beban? Dimana tempat itu lu cuma duduk terus lu bisa mikir ke masa depan tapi bawaannya ga setres? Itulah yang terjadi saat gue duduk di pinggiran sungai itu. The best place, ever…

Mungkin cerita gue bakal bersambung di bagian ini, karena cerita di balik kampung naga masih cukup panjang. Biar kayak film-film harry potter, breaking dawn, cerita ini gue buat dua bagian. Bersabarlah kalian untuk menunggu kampung naga part 2 nya.

Bagaimana  gue akan hidup di kampung naga? mandi? makan? dan apa saja yang gue temukan di kampung naga itu? cerita konyol apa yang bisa gue dapet dari pengalaman gue kali ini? Kita saksikan di kampung naga part 2. 😀

see ya..


 
2 Comments

Posted by on January 6, 2012 in traveling

 

Tags: , , , , , ,